Renungan: Rahasia Menjadi Kaya Menggunakan Jalur Langit!

Sebagai umat yang beriman, tentu kita sepakat jika persoalan rezeki sudah diatur Tuhan. Meski demikian, usaha dan doa mutlak dilakukan jika kita menginginkan rezeki yang melimpah. Sebab, menjadi kaya tidak cukup dengan hanya berpangku tangan.

Banyak orang yang menyangka jika rezeki yang didapatkan semata-mata hasil dari kerja kerasnya. Padahal tanpa pemberian Allah, segala kerja keras manusia untuk penghidupan hanyalah sia-sia belaka.

foto : tribunnews

Firman Allah SWT: “Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya”.[QS. Ar-R’adu:11]

Orang yang bermental kaya adalah orang kaya atau akan menjadi kaya, walaupun dia miskin. Orang yang bermental miskin adalah orang miskin, susah menjadi kaya, dan akan menjadi miskin walaupun dia kaya

Firman Allah SWT: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri ber-iman dan ber-taqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka men-dusta-kan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf: 96).

Bukan tanpa maksud jika kita seringkali bicara seputar rizki, harta, kekayaan maupun keuangan dalam satu rangkaian pembahasan tentang ekonomi dan bisnis. Yap betul, kita sedang melakukan propaganda. Karena kaya, harta ataupun uang bagi kebanyakan para aktivis Islam seolah-olah tabu dibicarakan, sensitive diomongkan karena seolah-olah dianggap hubbud dunya.

Padahal mereka pun tau bahwa para sahabat rata-rata adalah orang kaya berkelimpahan, bahkan Rasulullah sendiri adalah pribadi yang kaya raya. Kalaupun beliau saw memilih hidup sederhana, itu karena pilihan, bukan karena keterpaksaan.

Anda bisa bayangkan, bisnis apa yang dijalankan oleh seseorang yang tidak memiliki standart halal haram dalam amalnya? Demikian pula pertanyaan sebaliknya, jika anda diberikan nikmat harta kekayaan oleh Allah SWT, sementara insyaallah anda adalah orang-orang sholih, bisnis apa yang akan anda jalankan dengan kekayaan tersebut?

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap umat itu punya cobaan sendiri-sendiri. Dan cobaan bagi umatku adalah persoalan HARTA.” [HR Tirmidzi]

Rasulullah saw bersabda, “Akan datang pada manusia suatu zaman, ketika seseorang harus memilih antara KELEMAHAN dan KEMAKSIATAN. Maka barang siapa mengalami zaman itu, hendaklah dia memilih Kelemahan daripada Kemaksiatan.” [HR Al Hakim].

Prinsipnya, kita ingin membangun kekayaan secara sadar. Kenapa? Karena jika kita tidak secara sadar membangun kekayaan, itu sama artinya secara tidak sadar kita sebenarnya sedang membangun kemiskinan.

Dan sudah barang tentu, bisnis yang dibangun adalah bisnis yang halal, yang syar’i , yang tidak sekedar mendatangkan ‘berkat’ (Profit, Growth, Sustain) namun juga berkah berlimpah. Oleh karenanya, sedikitpun kita tidak berani mengatakan bahwa bisnis orang-orang muslim yang kebetulan masuk 40 besar orang terkaya di Indonesia adalah 100% halal.

foto : hops

Bagi kita, menjadi kaya itu hal yang biasa, tapi menjadi kaya yang tak biasa itu baru ruarr biasa. Kaya dengan syar’i itulah kaya yang sebenarnya, yopora? Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, “Mencari yang HALAL adalah wajib hukumnya atas setiap muslim.” [HR Thabrani]

Rasulullah saw bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Aku tergantung prasangka hamba-Ku. Apabila ia BERPRASANGKA BAIK kepada-Ku, maka kebaikan baginya. Dan bila berprasangka buruk maka keburukan baginya.” [HR Ahmad]

Allah Subhanahu wa Ta’laa berfirman : “Barangsiapa berhijrah di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.”(QS. An Nisa : 100). Wallohu A’lam bish Sowwab.

Sumber : Ruang Ustadz

 132 

You cannot copy content of this page