Pemerintah RI Disebut Berpeluang Kerja Sama dengan Taliban

Taliban mengejutkan banyak pihak setelah berhasil menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan pada Minggu (15/8/2021).

Taliban sukses mengambilalih kekuasaan, hanya dalam tempo 10 hari sejak penarikan pasukan pimpinan asing pimpinan AS dari Afghanistan.

Pengamat menyebut, Indonesia (RI) memiliki peluang kerja sama dengan Afghanistan yang dipimpin Taliban.

Hal ini dikatakan Sudarnoto Abdul Hakim, Peneliti dan Pengamat Luar Negeri dari FAH UIN Jakarta, Selasa (17/8/2021).

Kepada Tribunnews, Sudarto mengungkapkan alasannya karena cita-cita Taliban selama ini ingin mewujudkan kemerdekaan dan menghapus penjajahan.

Menurutnya, hal itu sama dengan cita-cita Indonesia sebagaimana tercantum dalam amanat pembukaan UUD 1945.

Indonesia punya peran untuk ikut mendorong Taliban menguatkan wasotiyatul Islam. Menurut Sudarnoto, prinsip wasotiyah ini penting dibangun dan diperkuat.

Tidak hanya untuk kepentingan Afghanistan agar tidak lagi terbentur bentur dalam konflik sekaligus melakukan konsolidasi politik yang firm.

“Prinsip wasotiyah, berarti pemerintah Taliban harus menyiapkan diri untuk semakin terbuka dengan dunia yang lebar,”  kata Sudarnoto kepada Tribunnews, Selasa (17/8/2021).

Selain itu, RI bisa menjalin kerjasama yang saling menguntungkan di berbagai bidang dengan Afghanistan yang dipimpin Taliban.

“Kita, Indonesia, hemat saya negeri muslim yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi pemerintah Taliban,” ujarnya.

Pengamat itu lantas menegaskan, kerja sama dengan Taliban yang baru. Karena menurutnya, pemerintah Taliban sekarang jauh lebih moderat, terbuka dan menjunjung tinggi HAM dan demokrasi plus Islam.

“Bukan Taliban lama, ini new Taliban,” ujarnya. “Ini bisa menjadi momentum penting bagi “a new era of the new Taliban.” jika tidak, maka Afghanistan akan terkucil atau dikucilkan oleh masyarakat internasional dan besar kemungkinan miskin,” ujarnya.

Namun, Sudarto mengatakan untuk urusan pengambilan kekuasaan oleh Taliban, itu tetap menjadi urusan internal di negara tersebut.

RI harus hormati politik yang terjadi di Afghanistan, sepanjang tidak mengganggu stabilitas kawasan, termasuk di asia tenggara.

“Soal pengambilan kekuasaan oleh Taliban, itu urusan internal mereka. Politik luar negeri kita harus berbasis kpd ‘non-interference principles’ nggak boleh ikut campur. Biar mereka selesaikan persoalan internal politik mereka,” katanya.

Di sisi lain, Sudarto juga memberikan pendapat mengenai kedudukan AS di Afghanistan selama ini.

Menurutnya Amerika Serikat (AS) berjasa membuka jalan bagi Taliban untuk menyempurnakan misi politiknya.

Sebagai negara besar, AS pernah membantu membebaskan Afghanistan dari Rusia misalnya beberapa tahun silam.

“Taliban pasti berterima kasih ke AS yang telah memuluskan jalan,” ujarnya.

Menurutnya Amerika sendiri juga punya alasan kuat untuk hengkang dari Afghanistan tanpa pamit dengan pertimbangan geopolitik.

“Jadi (AS) nggak mau berhadapan langsung dengan “musuh”nya, yaitu China. China itu sangat berkepentingan dengan Afghanistan. Jika Amerika bertahan terus di Afghanistan, tidak akan menyehatkan bagi Amerika sendiri dan Afghanistan. Apalagi keduanya (Taliban dan Amerika) pernah terikat dengan satu perjanjian,” ungkapnya.

Sumber : Tribunnews, KOMPASTV

Loading

You cannot copy content of this page