Otoritas Taiwan Akan Menaikkan Upah Minimum Pekerja di Tengah Pandemi Corona!

Asosiasi buruh dalam konferensi pers yang digelar pada hari Selasa ((18/08/2020) memuji usulan kenaikan upah minimum pekerja tersebut.

Namun di sisi lain, perwakilan dari sektor industri menyatakan kekecewaan, mengatakan bahwa itu akan menciptakan beban yang lebih besar bagi pengusaha bisnis di tengah pandemi COVID-19 yang tengah mewabah.

Panitia Musyawarah Upah Dasar, yang diselenggarakan oleh Kementerian Tenaga Kerja (MOL) Taiwan yang terdiri dari pekerja, majikan dan sarjana, mengatakan bahwa upah minimum bulanan di Taiwan harus dinaikkan menjadi NT$ 24.000.

Sedangkan upah minimum per jam harus dinaikkan menjadi NT$ 160 per jam, menurut proposal tersebut.

Meski demikian, proposal ini masih perlu disetujui oleh Kabinet Eksekutif Yuan. Jika disahkan, ini akan berlaku untuk semua pekerja di Taiwan kecuali pekerja rumah tangga migran, yang tidak tercakup dalam Undang-Undang Standar Tenaga Kerja yang berlaku di negeri Formosa.

Asosiasi pembela hak-hak buruh di Taiwan menyambut baik proposal tersebut, dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kenaikan upah minimum akan membuat perbaikan nyata dalam kehidupan para pekerja.

“Meski (usulan) kenaikan upah minimum ini terbilang kecil, menaikkan upah minimum sekarang akan memacu konsumsi dan meningkatkan kehidupan juga perkembangan ekonomi banyak pekerja,” kata kelompok itu.

Upah dasar di Taiwan hampir tidak naik selama beberapa dekade terakhir dan masih relatif rendah, kata kelompok itu.

Pihaknya seraya menambahkan bahwa dalam empat tahun terakhir, ketika upah minimum bulanan dinaikkan sekitar NT$ 1.000 per tahun, hal itu tidak berdampak negatif pada tingkat pengangguran yang telah diprediksi oleh pemberi kerja.

Pengusaha, bagaimanapun, menyuarakan penentangan terhadap proposal tersebut, dengan mengatakan bahwa itu akan menjadi beban yang terlalu besar bagi usaha bisnis kecil dan menengah di tengah pandemi COVID-19.

Wabah virus corona asal Wuhan, China ditambah dengan perang perdagangan antara Amerika Serikat dan China, telah memaksa banyak industri ke dalam situasi yang sulit dan kenaikan upah minimum akan memperburuk situasi ini, kata Tsai Lien-sheng, sekretaris jenderal Federasi Industri Nasional China.

Peningkatan biaya yang dihadapi oleh pengusaha bisnis tidak sekecil yang terlihat, kata Tsai, karena kenaikan upah minimum juga akan menyebabkan peningkatan biaya asuransi kesehatan dan asuransi tenaga kerja.

Tsai mengatakan meskipun dia akan menghormati keputusan pemerintah, dia mengingatkan bahwa kenaikan upah minimum juga dapat menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran di Taiwan.

Menurut Darson Chiu, seorang sarjana di Institut Riset Ekonomi Taiwan, penyesuaian upah dasar mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian atas pandemi COVID-19 yang hingga kini terus berdampak pada perekonomian global.

Pekan lalu, Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi, dan Statistik (DGBAS) memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Taiwan pada tahun 2020 akan mencapai 1,56 persen.

Namun kenaikan upah minimum bulanan tidak setinggi itu karena masih belum jelas bagaimana pandemi corona akan berdampak pada dunia dalam beberapa bulan mendatang, kata Chiu.

Secara umum, sedikit kenaikan dalam upah minimum harus menjadi proposal yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, katanya.

Sementara itu, Cheng Chih-yu, kepala dari institusi urusan pekerja dari Universitas Nasional Chengchi, Taiwan mengkritik kenaikan tersebut.

Cheng mengatakan walau bagaimanapun kenaikan gaji per jam sebesar NT$ 2 dianggap terlalu kecil.

Meski kenaikan tersebut tidak akan terlalu membebani pengusaha, para pekerja tidak akan benar-benar merasakan manfaatnya, ungkapnya.

Menanggapi hal ini, Dachrahn Wu, seorang profesor ekonomi di Universitas Nasional Central Taiwan menggambarkan sedikit peningkatan itu sebagai “gerakan simbolik”, yang dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa pemerintah Taiwan masih memperhatikan masalah perburuhan di tengah pandemi yang berlangsung.

Namun proposal ini dinilai masih akan menjadi beban bagi perusahaan Taiwan, terutama yang berada di industri manufaktur tradisional, kata Wu.

Industri-industri ini telah mengalami kerugian besar karena pandemi dan karena produk mereka sebagian besar diproduksi di Taiwan, bahkan sedikit kenaikan gaji pokok akan berdampak negatif pada keberlangsungan usaha mereka.

Berbicara kepada wartawan pada hari Selasa, Menteri Tenaga Kerja Taiwan, Hsu Ming-chun mengatakan bahwa tujuan menaikkan upah minimum adalah untuk membantu kalangan yang paling kurang beruntung di lapisan masyarakat, terlebih akibat terpaan wabah corona.

Mengingat situasi ekonomi yang sulit tahun ini, jumlah peningkatan upah minimum pekerja di Taiwan hanya meningkat sedikit, tetapi tetap akan menguntungkan para pekerja, kata Hsu.

Juru bicara Eksekutif Yuan, Ting Yi-ming juga memuji proposal tersebut, mengatakan bahwa itu akan menguntungkan lebih dari 1,5 juta pekerja di Taiwan yang menerima upah minimum, tanpa menyebabkan terlalu banyak tekanan pada pengusaha bisnis.

Sumber : 三立iNEWS, 即新聞, CNANews

Loading

You cannot copy content of this page