Tensi Kian Memanas, Pesawat Tempur China 46 kali Masuk Taiwan Dalam 9 Hari Terakhir!

A US-made S-70C helicopter files over a French-made Lafayette frigate during a drill at sea near the naval port in Kaohsiung in southern Taiwan on January 27, 2016. The Taiwanese military launched a series of mini military drills the last two days to display their determination to defend itself against China amid concerns if tensions would be stoked across the Taiwan Strait following the island's recent presidential vote. AFP PHOTO / Sam Yeh / AFP / SAM YEH (Photo credit should read SAM YEH/AFP via Getty Images)

Tensi China dengan Taiwan makin meninggi akhir-akhir ini. Taiwan mencatat, militer China telah memasuki wilayah udara Taiwan sebanyak 46 kali dalam sembilan hari terakhir.

Otoritas China meningkatkan tekanan di pulau yang dianggap sebagai bagian dari wilayahnya itu.

Memanas, dalam 9 hari terakhir pesawat tempur China 46 kali masuk wilayah Taiwan
foto : Reuters

Terbaru, sebuah pesawat dari Tentara Pembebasan Rakyat China melanggar zona identifikasi pertahanan udara pulau itu pada ketinggian 2.300 meter (7.545 kaki) dan 9.000 meter (29.527 kaki) pada Kamis (24/9). Taiwan menggambarkan tindakan ini sebagai tindakan “provokatif”.

Pemerintah Taiwan memberi tahu China untuk mundur saat ‘serangan’ wilayah udara meningkat

Seperti dikutip Al Jazeera, Kementerian Pertahanan Taiwan menyebutkan di Twitter, mencurigai pesawat China itu adalah pesawat anti-kapal selam Yun-8, Taiwan kemudian menyiarkan peringatan radio, pesawat tempur acak, dan mengerahkan sistem rudal anti-pesawat sebagai tanggapan.

Insiden terbaru ini membuat jumlah total insiden selama sembilan hari terakhir hingga 24 September menjadi 46 insiden, demikian saluran berita SETN melaporkan.

Selasa pekan ini, Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mendesak Beijing untuk kembali ke standar internasional yang beradab setelah seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China secara terbuka menolak batas laut di Selat Taiwan.

Pejabat itu mengatakan tidak mungkin ada garis tengah seperti yang diklaim China lantaran Taiwan dianggap bagian tak terpisahkan dari wilayah China.

Ketegangan antara China dan Taiwan telah meningkat sejak Presiden Tsai Ing-wen pertama kali mengambil alih kekuasaan Taiwan pada tahun 2016. Namun, ketegangan makin meningkat sejak Tsai terpilih kembali secara telak pada bulan Januari 2020 lalu.

Tsai menolak pandangan Beijing bahwa Taiwan – yang memerintah sendiri selama 70 tahun dan salah satu negara demokrasi paling dinamis di kawasan itu – adalah bagian dari “Satu China”.

Posisi Amerika Serikat yang lebih tegas soal Taiwan, di tengah kemerosotan tajam dalam hubungannya dengan Beijing, telah menambah ketegangan.

A U.S.-made helicopter files over a French-made vessel during a drill at sea near the naval port in Kaohsiung in southern Taiwan on Jan. 27.
foto : AFP

Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan, serangan China itu paling intens pada akhir pekan lalu ketika Keith Krach, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk pertumbuhan ekonomi, energi dan lingkungan, tiba di Taiwan untuk bertemu Tsai dan menghadiri upacara peringatan untuk mantan Presiden Lee. Teng-hui.

Krach adalah pejabat paling senior dari Departemen Luar Negeri AS yang mengunjungi Taiwan dalam 40 tahun terakhir.

Sumber : 三立LIVE新聞, Al Jazeera

Loading

You cannot copy content of this page