MOL Berharap Akhir November Taiwan Buka Perbatasan Bagi TKI ke Taiwan

Otoritas Taiwan sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan moratorium yang menutup pintu bagi pekerja migran asing untuk masuk ke Taiwan di tengah pandemi COVID-19 dan menggunakan sistem berbasis poin untuk memungkinkan masuknya pekerja kontrak di luar negeri, ungkap Menteri Tenaga Kerja (MOL) Taiwan, Hsu Ming-chun dalam konferensi pers yang digelar pada hari Senin (1/11/2021).

Hsu mengatakan kepada anggota Komite Kesejahteraan Sosial dan Kebersihan Lingkungan dalam rapat yang digelar di Legislatif Yuan bahwa calon pekerja migran akan diberikan poin untuk hal-hal seperti vaksinasi lengkap dan memiliki situasi COVID-19 yang relatif stabil di negara asalnya.

Bagi majikan atau pengusaha bisnis yang berniat untuk merekrut tenaga kerja asing (TKA) dari luar negeri, juga akan dinilai dan diberikan poin berdasarkan tingkat kesiapsiagaan pencegahan pandemi mereka, tambah Hsu.

Menurut Direktur Jenderal Badan Pengembangan Tenaga Kerja (WDA) Kementerian Tenaga Kerja (MOL) Taiwan, Tsai Meng-liang, mereka yang memiliki poin tertinggi akan diprioritaskan untuk memasuki Taiwan.

Tsai juga menyebutkan 3 poin yang akan ditinjau yakni jika pekerja migran telah mendapatkan 2 dosis vaksin corona maka poinnya akan lebih tinggi.

Selain itu jika semakin stabil situasi epidemi COVID-19 di negara asal pekerja migran maka semakin tinggi poin yang dapat ditentukan.

Poin terakhir adalah jika asrama yang disediakan oleh majikan adalah satu orang satu kamar dan dilengkapi dengan kamar mandi, maka poinnya juga akan semakin tinggi.

Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam saat ini merupakan empat sumber tenaga kerja asing terbesar di Taiwan.

Di antara negara-negara ini, Indonesia melaporkan rata-rata sekitar 1.000 kasus baru COVID-19 setiap hari, sementara penambahan kasus corona untuk tiga negara lainnya lebih dari 10 kali lipat, kata Hsu.

Hsu mengatakan MOL Taiwan telah memutuskan untuk memperkenalkan langkah-langkah pencegahan penularan wabah corona yang lebih ketat mengenai masuknya pekerja migran asing ke Taiwan untuk mempertahankan situasi COVID-19 yang terkendali di Taiwan.

Karena seperti yang diketahui bersama, baik pemerintah dan seluruh elemen masyarakat di Taiwan telah bersusah payah bekerja sama agar kasus corona di Taiwan dapat dikendalikan dan terus mencatat nol kasus untuk kasus-kasus penularan lokal COVID-19.

Taiwan pertama kali melarang masuknya pekerja migran dari Indonesia pada Desember 2020 karena situasi COVID-19 di negara itu.

Pemerintah selanjutnya melarang semua pekerja migran asing (PMA) masuk ke Taiwan mulai 19 Mei lalu, menyusul lonjakan kasus COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya di Taiwan.

Namun, karena Taiwan telah mengalami kekurangan tenaga kerja yang cukup parah maka pihaknya memutuskan untuk segera membuka perbatasan bagi pekerja migran asing ke Taiwan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Hsu mengatakan Taiwan sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan PMA kembali masuk ke Taiwan mengingat tingkat vaksinasi dosis pertama di Taiwan saat ini telah melewati 70 persen.

Rancangan rencana tindakan ini telah disampaikan ke Pusat Komando Epidemi Pusat (CECC) Taiwan untuk ditinjau secara menyeluruh, kata pihak MOL Taiwan.

Hsu menyatakan harapan bahwa Taiwan dapat membuka pintunya bagi pekerja migran asing pada akhir bulan November ini.

Sementara itu Tsai menambahkan bahwa karena sebagian besar majikan pengasuh rumah tangga adalah keluarga biasa, pekerja yang mencari pekerjaan di pabrik dan mereka yang ingin bekerja sebagai ART atau pengasuh anggota keluarga akan mendaftar secara terpisah.

Poin untuk kedua grup ini akan dievaluasi secara terpisah. Adapun jenis vaksin yang diperlukan untuk pekerja migran dalam kategori ini akan diputuskan oleh CECC Taiwan, kata Tsai.

Sumber : 公視新聞網, 寰宇新聞 頻道, ETtoday

Loading

You cannot copy content of this page