Kematian Akibat Pengemudi Mabuk Meningkat, MOTC Usulkan Hukuman yang Lebih Berat

Menteri Transportasi Taiwan (MOTC), Wang Kwo-tsai dalam konferensi pers yang digelar pada hari Rabu (29/12/2021) mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk mengusulkan revisi undang-undang (RUU) yang ada untuk memperkenalkan hukuman yang lebih berat untuk pengemudi yang mengemudi dalam keadaan mabuk (DUI), setelah beberapa kasus kecelakaan lalu lintas akibat DUI meningkat baru-baru ini.

Proposal RUU tersebut akan mencakup penyitaan kendaraan pelanggar jika mereka menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan kematian atau cedera serius saat mengemudi di bawah pengaruh alkohol atau dalam kondisi mabuk, kata Wang.

Menurut Wang, saat ini hukuman seperti itu hanya berlaku untuk pelanggar yang telah melakukan pelanggaran DUI berulang.

Wang mengatakan pihak MOTC juga sedang mempertimbangkan untuk memperluas definisi “pelanggaran berulang” dengan memperpanjang periode yang dicakup oleh catatan mengemudi dalam keadaan mabuk dari 5 tahun menjadi 10 tahun.

Meskipun undang-undang terkait baru-baru ini diubah pada bulan Mei 2019 lalu untuk meningkatkan hukuman pelanggar kasus DUI, namun Wang mengatakan pihaknya sedang mencari hukuman baru yang cukup berat untuk memberikan efek jera bagi pengemudi yang mengemudi dalam keadaan mabuk.

Saat ini, hukuman maksimum untuk mengemudi dalam keadaan mabuk adalah hukuman penjara 2 tahun dan jika terjadi kematian adalah penjara dari 3 hingga 10 tahun.

Menurut data MOTC Taiwan, ada 909 kematian di Taiwan yang tercatat terkait mengemudi dalam kondisi mabuk pada tahun 2011.

Sedangkan pada tahun 2016 kasus ini meningkat menjadi 399 kasus. Sementara pada tahun 2020 kemarin, kasus kematian akibat DUI menurun menjadi 289 kasus.

Selain itu, sanksi bagi penumpang kendaraan yang kedapatan mabuk juga akan lebih berat. Saat ini, penumpang yang dalam kondisi mabuk akan didenda NT$ 600 hingga NT$ 3.000.

Akan tetapi Wang mengatakan pihak Kementrian Transportasi Taiwan ingin menaikkannya menjadi NT$ 3.000 hingga NT$ 15.000.

Mengemudi dalam keadaan mabuk telah menarik banyak perhatian publik baru-baru ini, menyusul serentetan insiden kecelakaan tragis, termasuk yang terkait dengan pelaku berulang yang menyetir di zebra cross pada 26 Desember lalu hingga menyebabkan satu keluarga terluka yang diwarnai dengan kematian sang ibu dan menyebabkan suami dan 2 orang anaknya mengalami cedera serius.

Pada hari Rabu, anggota parlemen dari Partai Rakyat Taiwan mendesak pemerintah Taiwan untuk menerapkan langkah-langkah yang lebih efektif untuk mengurangi kasus pelanggaran DUI yang telah merenggut banyak nyawa, termasuk mewajibkan semua mobil baru untuk memiliki perangkat kunci kontak.

Undang-undang saat ini hanya mewajibkan pelanggar berulang untuk memasang perangkat semacam itu di kendaraan mereka.

Akan tetapi kebijakan itu tampaknya tidak berhasil, kata anggota parlemen pada konferensi pers. Pengemudi dapat dengan mudah menyiasati aturan dengan meminta orang lain membuka kunci perangkat atau hanya mengendarai mobil yang berbeda, kata legislator Partai Rakyat Taiwan.

Selama rapat, anggota parlemen Kuomintang juga menyarankan alternatif untuk mengekang mengemudi di bawah pengaruh alkohol, seperti penerapan hukum cambuk atau pengungkapan publik informasi pribadi pelanggar.

Sebagai tanggapan, Wakil Menteri Kehakiman Taiwan, Chang Tou-hui mengatakan pihaknya akan melihat proposal yang dibuat oleh anggota parlemen untuk menentukan hukuman baru bagi pelanggaran kasus DUI di Taiwan.

SSumber : 蘋果新聞網, CTITV NEWS, CNANews

Loading

You cannot copy content of this page