Lockdown, WNI di Shanghai Dijejali Jamu hingga Susah Makan

Salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Kota Shanghai, China, Alisa, membeberkan penanganan pemerintah kota di tengah lonjakan kasus Covid-19. Salah satunya memberi obat tradisional China.

Kenaikan kasus Covid-19 itu membuat pemerintah menetapkan penguncian (lockdown) wilayah di Shanghai pada akhir Maret lalu hingga sekarang.

WNI yang tinggal di kota Shanghai, China, membeberkan penanganan pemerintah kota di tengah lonjakan kasus Covid-19, salah satunya memberi obat tradisional.
foto : Reuters

Mengutip Our World in Data, pada Senin (11/4) kasus harian Covid-19 di China mencapai 26.517. Angka ini melonjak drastis dibandingkan bulan lalu, di mana kenaikan kasus Covid-19 mencapai 1.225 kasus.

Di hari yang sama, penambahan kasus di Shanghai, tercatat 998 kasus.

Lockdown di Shanghai membuat penduduk tak bisa banyak bergerak. Sehingga mau tak mau pemerintah harus memenuhi kebutuhan logistik masyarakat.

Alisa mengungkapkan pemerintah Shanghai mengirim bantuan berupa makanan termasuk obat tradisonal China yang dinilai cukup unik.

“Agak rancu juga waktu saya dikasih [obat tradisional itu]. Ada yang bilang kalau positif Covid-19 baru minum, ada yang bilang itu ‘macam jamu (seperti di) Indonesia’ buat kesehatan,” jelas Alisa saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (12/4) sore.

Ia mengaku beberapa kali meminum obat itu meski tak terinfeksi virus corona.

Pemerintah Shanghai memberi bantuan makanan kepada warga kala lockdown. Namun bagi Alisa, bantuan tersebut tak merata dan kurang tepat sasaran sehingga membuat penduduk kota itu gusar.

“Cuma dikirimnya sedikit sayuran, sepotong daging. Banyak kebutuhan lain termasuk kebutuhan pokok yang belum terpenuhi,” lanjut dia.

Selain itu, ada dua distrik di Shanghai yang melulu ribut lantaran tak kebagian paket bantuan.

Shanghai: Residents 'running out of food' in Covid lockdown - BBC News
foto : BBC

Selama pandemi virus corona, China menerapkan strategi zero Covid-19. Salah satu strategi itu yakni tes massal. Alisa menilai tes massal cukup ketat di Shanghai.

Menurut penuturan dia, tes antigen dan PCR hampir setiap hari dilakukan tanpa biaya. Jika di sebuah gedung atau apartemen belum ada yang terinfeksi Covid-19, warga diminta berkumpul untuk dites.

Sementara itu, jika ada kasus Covid-19 barang cuma satu atau dua orang, tes dilakukan dengan door to door. Petugas kesehatan akan mengunjungi setiap penghuni di gedung itu. Langkah ini ditempuh untuk meminimalkan interaksi, mobilitas dan penularan.

“Tiap community [komunitas] ada tes PCR dijalankan hampir setiap hari. Semua gratis, baik PCR test maupun Antigen tes semua tidak pandang kewarganegaraan maupun daerah asal,” beber Alisa.

Untuk terus menjalankan tes tersebut sebagai bagian dari strategi, China mengerahkan tentara dan 38 ribu petugas medis di Shanghai.

Lockdown di Shanghai membuat mobilitas penduduk betul-betul dibatasi, termasuk pengiriman paket.

“Saat ini tidak bisa terima paket kiriman, enggak boleh. Jadi untuk pesan antar ada dua pilihan,” kata Alisa.

Pertama jika ada toko yang beroperasi dan membuka layanan pesan antar, itu pun hanya sekitar 10 menit. Kedua, warga bisa belanja melalui sistem belanja bersama atau buying group.

Sistem ini berupa paket belanja dengan minimal pembeli 50 orang. Kemudian jika sudah terakumulasi, belanjaan bisa diantar ke lokasi.

“Kita di Shanghai setiap hari, bahkan di media sosial, orang-orang mengunggah soal gimana cara belanja online melalui aplikasi supermarket seperti Ding Dong Mai Cai, Mei Tuan Mai Cai, Jing Dong,” tutur Alisa.

Bagi warga Shanghai saat ini, aplikasi tersebut menjadi satu-satunya sumber yang bisa menerima pesan antar setiap hari.

WNI yang tinggal di kota Shanghai, China, membeberkan penanganan pemerintah kota di tengah lonjakan kasus Covid-19, salah satunya memberi obat tradisional.
foto : CNNIndonesia

“Itulah kenapa banyak yang protes juga karena kita seperti dibiarkan kekurangan di dalam rumah, kebutuhan pokok dari pemerintah enggak komplet dan tidak cukup kuantitasnya. Mau DO nggak bisa karena minim driver, atau [minim] toko yang buka,” lanjut Alisa.

China berada dalam amukan Covid-19 saat sejumlah negara mulai memasuki fase endemi.

Sumber : Our World in Data, CNN Indonesia

Loading

You cannot copy content of this page